Sabtu, Oktober 26, 2013

ALGORITMA DAN PEMOGRAMAN


Berikut adalah Materi Kuliah Algoritma dan Pemograman III - STT Ibnu Sina Batam. Berhubung Materi tsb belum diprint oleh admin kita silahkan di download dari Materi Algoritma dan Pemograman dan Soalan


Psw: MyNumber

Sabtu, September 28, 2013

Bahasa Pemrograman

Bahasa pemrograman adalah istilah yang menerangkan bahasa yang dapat dimengeri oleh komputer. Dalam dunia komputer dikenal 2 jenis bahasa pemrograman, yaitu bahasa pemrograman tingkat tinggi dan bahasa pemrograman tingkat rendah.
Sebuah bahasa pemrograman atau bahasa komputer di artikan sebagai teknik komunikasi yang terstandarisasi untuk menyatakan instruksi kepada komputer. Bahasa pemrograman adalah kesatuan aturan sintaksis dan semantik yang di gunakan untuk mendefinisikan program.
Sebuah bahasa pemrograman memungkinkan programer untuk menentukan secara tepat apa yang harus dilakukan oleh komputer, cara mengatur transfer data, input-output, dan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan dalam berbagai keadaan.
Bahasa pemrograman tingkat rendah merupakan bahasa pemrograman yang sulit dimengerti oleh manusia, sedangkan bahasa pemrograman tingkat tinggi lebih mudah dipahami oleh manusia. Contoh dari bahasa pemrograman tingkat rendah adalah Assembly, dan contoh bahasa pemrograman tingkat tinggi adalah Foxpro, Basic, C dan Pascal. Perkembangan teknologi yang sangat cepat menghasilkan berbagai macam kebutuhan komputasi yang beraneka ragam. Oleh karena itu, muncul berbagai bahasa pemrograman yang berguna untuk memecahkan berbagai macam masalah dengan bantuan komputer. Tiap-tiap bahasa pemrograman pada umumnya diciptakan untuk kondisi yang berbeda-beda. Tidak ada satu bahasa pemrograman pun yang bisa dikatakan unggul secara mutlak, sebab bahasa-bahasa tersebut diciptakan dengan asumsi-asumsi tertentu dan berjalan di atas sistem operasi atau persyaratan tertentu.

Fungsi bahasa pemrograman

Fungsinya adalah menyuruh komputer untuk mengolah data sesuai dengan alur berpikir yang kita inginkan. Keluaran dari bahasa pemrograman adalah berupa program/aplikasi. Contohnya adalah program yang digunakan oleh kasir di mal-mal atau swalayan.
Penentuan jenis bahasa tidak ditentukan oleh trend namun lebih kepada kesesuaian antara masalah yang hendak dipecahkan dengan kelebihan dari suatu bahasa pemrograman. Misalkan, untuk membuat suatu aplikasi mengenai kecerdasan buatan, lebih tepat jika menggunakan bahasa pemrograman logik.

Secara umum terdapat 4 kelompok Bahasa Pemrograman, yaitu :
• Object Oriented Language (Visual FoxPro, Visual Basic, Visual dBase, Delphi, Visual C)
• High Level Language (seperti Pascal dan Basic)
• Middle Level Language (seperti bahasa C), dan
• Low Level Language (seperti bahasa Assembly)

Senin, September 23, 2013

Function SendKeys / Keyboard

Function SendKeys dapat digantikan dengan syntak bawaan Visual Foxpro yaitu KEYBOARD. Dimana format dari function KEYBOARD adalah sebagai berikut :

KEYBOARD cKeyboardValue

Contoh :

KEYBOARD "{CTRL+LEFTARROW}"
KEYBOARD "{CTRL+A}"

Daftar dari parameter untuk cKeyboardValue adalah sebagai berikut :

LEFTARROW = LEFTARROW
RIGHTARROW = RIGHTARROW
UPARROW = UPARROW
DOWNARROW = DNARROW
HOME = HOME
END = END
PAGE UP = PGUP
PAGE DOWN = PGDN
DEL = DEL
BACKSPACE = BACKSPACE
SPACEBAR = SPACEBAR
INS = INS
TAB = TAB
SHIFT+TAB = BACKTAB
Left Brace = LBRACE
Right Brace = RBRACE
ENTER = ENTER
F1 to F12 = F1, F2, F3 ...
CTRL+F1 to CTRL+F12 = CTRL+F1, CTRL+F2 ...
SHIFT+F1 to SHIFT+F12 = SHIFT+F1, SHIFT+F2 ...
ALT+F1 to ALT+F12 = ALT+F1, ALT+F2, ALT+F3 ...
ALT+0 to ALT+9 = ALT+0, ALT+1, ALT+2 ...
ALT+A to ALT+Z = ALT+A, ALT+B, ALT+C ...
CTRL+LEFT ARROW = CTRL+LEFTARROW
CTRL+RIGHT ARROW = CTRL+RIGHTARROW
CTRL+HOME = CTRL+HOME
CTRL+END = CTRL+END
CTRL+PAGE UP = CTRL+PGUP
CTRL+PAGE DOWN = CTRL+PGDN
CTRL+A TO CTRL+Z = CTRL+A, CTRL+B, CTRL+C ...
CTRL+0 = CTRL+0
RIGHT MOUSE BUTTON = RIGHTMOUSE
LEFT MOUSE BUTTON = LEFTMOUSE
MOUSE BUTTON = MOUSE
ESC = ESC

Meskipun sebenarnya function Keyboard bawaan Visual Foxpro telah lengkap dan bisa menggantikan function SendKeys, akan tetapi untuk menjalankan Start Menu yang memerlukan kombinasi tombol CTRL+ESC hanya bisa dilakukan oleh function SendKeys sedangkan function Keyboard tidak diijinkan untuk melakukan perintah dengan kedua kombinasi tombol tersebut.
Untuk melakukan ini kita menggunakan function sendkeys untuk mengirimkan kombinasi tombol CTRL + ESC sehingga start menu dapat ditampilkan. Berikut ini source codenya :

objShell = CreateObject("WScript.Shell")
objShell.SendKeys("^{esc}")

Jumat, September 16, 2011

Cidera Kepala Secara Operatif

Pendahuluan

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian utama dikalangan usia produktif khususnya di negara berkembang. Hal ini diakibatkan karena mobilitas yang tinggi di kalangan usia produktif.

Lebih dari separuh kematian karena cedera, cedera kepala berperan nyata atas outcome. Pada pasien dengan cedera berganda, kepala adalah bagian yang paling sering mengalami cedera, dan pada kecelakaan lalulintas yang fatal, otopsi memperlihatkan bahwa cedera otak ditemukan pada 75% penderita. Untuk setiap kematian, terdapat dua kasus dengan cacat tetap, biasanya sekunder terhadap cedera kepala (Narayan, 1991).

Di Amerika Serikat pada tahun 1990 dilaporkan kejadian cedera kepala 200/100.000 penduduk pertahun. Pada penderita dengan cedera kepala ringan dan sedang hanya 3% -5% yang memerlukan tindakan operasi kurang lebih 40% dan sisanya dirawat secara konservatif. Saat ini saja terdapat sekitar 5,3 juta orang Amerika yang mengalami cacat berkepanjangan karena akibat trauma kepala.

Pragnosa pasien cedera kepala akan lebih baik bila penatalaksanaan dilakukan secara tepat dan cepat.

Pasien meninggal karena beberapa faktor yakni :
- Prolog hipoksia dan hipotensi
- Herniasi otak
- Komplikasi - komplikasi sistemik

Pada salah satu studi prospektif dengan CT Scan didapat hasil :
- Pada cedera kepala berat : 30% CT Scan normal dan 70% abnormal
- Pada cedera kepala ringan yang pemah mengaJami pingsan: 18% CT Scan abnormal
- 5% diantaranya memerlukan tindakan operasi.
- Pada cedera kepala sedang : 40% CT Scan abnormal dan 8% memerlukan tindakan operasi.

Dari traumatik kama data bank ditemukan pada studi 275 pasien dengan hematoma supratentorial didapat: 58% SDH, 26% ICH clan 16% EDH

Klasifikasi

Cedera kepala bisa diklasifikasikan atas berbagai hal.Untuk kegunaan praktis, tiga jenis klasifikasi akan sangat berguna, yaitu berdasar mekanisme, tingkat beratnya cedera kepala serta berdasar morfologi.

Klasifikasi cedera kepala
A. Berdasarkan mekanisme
1 Tertutup
2 Penetrans
B. Berdasarkan beratnya
1 Skor Skala Koma Glasgow
2 Ringan, sedang, berat
C. Berdasarkan morfologi
1 Fraktura tengkorak
a Kalvaria
- Linear atau stelata
- Depressed atau nondepressed
b Basilar
2 Lesi intrakranial
a Fokal
- Epidural
- Subdural
- Intraserebral
b Difusa
- Konkusi ringan
- Konkusi klasik
- Cedera aksonal difusa



BERDASAR MEKANISME

Cedera kepala secara luas diklasifikasikan sebagai tertutup dan penetrans. Walau istilah ini luas digunakan dan berguna untuk membedakan titik pandang, namun sebetulnya tidak benar-benar dapat dipisahkan. Misalnya fraktura tengkorak depres dapat dimasukkan kesalah satu golongan tersebut, tergantung kedalaman dan parahnya cedera tulang. Sekalipun demikian, untuk kegunaan klinis, istilah cedera kepala tertutup biasanya dihubungkan dengan kecelakaan kendaraan, jatuh dan pukulan, dan cedera kepala penetrans lebih sering dikaitkan dengan luka tembak dan luka tusuk. Karena pengelolaan kedua kelompok besar ini sedikit berbeda, dipertahankanlah pengelompokan ini untuk keperluan dskriptif.

BERDASAR BERATNYA

Jennett dan Teasdale menentukan koma sebagai ketidakmampuan untuk menuruti perintah, mengucapkan kata-kata dan membuka mata. Pada pasien yang tidak mempunyai ketiga aspek pada definisi tersebut tidak dianggap sebagai koma. Pasien yang bisa membuka mata secara spontan, dapat mengikuti perintah serta mempunyai orientasi, mempunyai skor total 15 poin, sedang pasien yang flaksid, dimana tidak bisa membuka mata atau berbicara mempunyai skor minimum yaitu 3.

Tidak ada skor tunggal antara 3 dan 15 menentukan titik mutlak untuk koma. Bagaimanapun 90% pasien dengan skor total delapan atau kurang, dan tidak untuk yang mempunyai skor 9 atau lebih, dijumpai dalam keadaan koma sesuai dengan definisi terdahulu. Untuk kegunaan praktis, skor total SKG 8 atau kurang menjadi definisi yang sudah umum diterima sebagai pasien koma.

Perbedaan antara pasien dengan cedera kepala berat dan dengan cedera kepala sedang atau ringan karenanya menjadi sangat jelas. Namun perbedaan antara cedera kepala sedang dan berat lebih sering memiliki masalah. Beberapa menyatakan bahwa pasien cedera kepala dengan jumlah skor 9 hingga 12 dikelompokkan sebagai cedera kepala sedang, dan skor SKG 13 hingga 15 sebagai ringan.

Williams, Levin dan Eisenberg baru-baru ini melaporkan defisit neurologis penderita dengan cedera kepala ringan (SKG 12 hingga 15) dengan lesi massa intrakranial pada CT pertama adalah sesuai pasien dengan cedera kepala sedang (SKG 9 hingga 11). Pasien dengan cedera kepala ringan tanpa dengan komplilesi intrakranial pada CT jelas lebih baik.

Tanpa memperdulikan nilai SKG, pasien digolongkan sebagai penderita cedera kepala berat bila:
1. Pupil tak ekual
2. Pemeriksaan motor tak ekual.
3. Cedera kepala terbuka dengan bocornya CSS atau adanya jaringan otak yang terbuka.
4. Perburukan neurologik.
5. Fraktura tengkorak depressed.

PENGELOLAAN CEDERA KEPALA

1. Untuk kelompok dengan risiko rendah, dengan tanda-tanda dan gejala-gejala awal minimal seperti nyeri kepala, pusing, atau laserasi scalp, dianjurkan dipulangkan kelingkungan yang dapat dipertanggung-jawabkan untuk pengamatan, dengan tidak memerlukan radiografi tengkorak.
2. Untuk kelompok dengan risiko sedang, dengan tanda-tanda awal seperti muntah, intoksikasi alkohol atau obat, amnesia posttraumatika, atau tanda-tanda adanya fraktura basilar atau depressed, tindakan yang dianjurkan termasuk peningkatan pengamatan ketat, pertimbangan untuk CT scan atau radiografi foto polos serta konsultasi bedah saraf.
3. Untuk kelompok dengan risiko tinggi, dengan gejala-gejala awal paling serius seperti tingkat kesadaran yang tertekan atau menurun, tanda-tanda neurologis fokal atau cedera tembus, dilakukan konsultasi bedah saraf dan CT scan emergensi.

Sekitar 75% pasien termasuk kelompok risiko rendah, 23% kelompok risiko sedang dan 2% kelompok risiko berat.

Berdasarkan informasi proses pemulihannya 6-12 bulan untuk penderita cidera kepala berat.

Cedera Kepala Ringan

Definisi: Pasien bangun, dan mungkin bisa berorientasi.
Kriteria Rawat:
1. Amnesia posttraumatika jelas (lebih dari 1 jam)
2. Riwayat kehilangan kesadaran (lebih dari 15 menit)
3. Penurunan tingkat kesadaran
4. Nyeri kepala sedang hingga berat
5. Intoksikasi alkohol atau obat
6. Fraktura tengkorak
7. Kebocoran CSS, otorrhea atau rhinorrhea
8. Cedera penyerta yang jelas
9. Tidak punya orang serumah yang dapat dipertanggung jawabkan
10. CT scan abnormal

Dipulangkan dari UGD:
1. Pasien tidak memiliki kriteria rawat
2. Beritahukan untuk kembali bila timbul masalah dan jelaskan tentang 'lembar peringatan'
3. Rencanakan untuk kontrol dalam 1 minggu

Majoritas pasien yang datang ke UGD dengan cedera kepala berada pada kategori ini. Pasien dalam keadaan bangun saat diperiksa dokter namun mungkin amnestik atas kejadian sekitar saat cedera. Mungkin terdapat riwayat kehilangan kesadaran sebentar, yang biasanya sulit untuk dipastikan. Hal tersebut mungkin dikacaukan oleh alkohol atau intoksikans lain.

Kebanyakan pasien dengan cedera kepala ringan akan menuju pemulihan tanpa disertai hal-hal yang berarti, terkadang dengan sekuele neurologis yang sangat ringan.

Namun sekitar 3% pasien secara tidak disangka memburuk dan gawat neurologis bila kelainan status mentalnya tidak diketahui secara dini.

Cedera Kepala Sedang

Definisi: Pasien mungkin konfusi atau somnolen namun tetap mampu untuk mengikuti perintah sederhana (SKG 9-12).

Setelah dirawat:
1. Pemeriksaan neurologis setiap setengah jam
2. CT scan ulangan hari ketiga atau lebih awal bila ada perburukan neurologis
3. Pengamatan TIK dan pengukuran lain seperti untuk cedera kepala berat akan memperburuk pasien
4. Kontrol setelah pulang biasanya pada 2 minggu, 3 bulan, 6 bulan dan bila perlu 1 tahun setelah cedera



Walau pasien ini tetap mampu mengikuti perintah sederhana, mereka dapat memburuk secara cepat. Karenanya harus ditindak hampir seperti halnya terhadap pasien cedera kepala berat, walau mungkin dengan kewaspadaan yang tidak begitu akut terhadap urgensi.

Cedera Kepala Berat

Definisi: Pasien tidak mampu mengikuti bahkan perintah sederhana karena gangguan kesadaran.

Pengelolaan:
Di Unit Gawat Darurat
1. Riwayat:
- Usia, jenis dan saat kecelakaan
- Penggunaan alkohol atau obat-obatan
- Perjalanan neurologis
- Perjalanan tanda-tanda vital
- Muntah, aspirasi, anoksia atau kejang
- Riwayat penyakit sebelumnya, termasuk obat-obatan yang dipakai serta alergi
2. Stabilisasi Kardiopulmoner:
- Jalan nafas, intubasi dini
- Tekanan darah, normalkan segera dengan Salin normal atau darah Foley, tube nasogastrik kateter
- Film diagnostik: tulang belakang leher, abdomen, pelvis, tengkorak, dada, ekstremiras
3. Pemeriksaan Umum
4. Tindakan Emergensi Untuk Cedera Yang Menyertai:
- Trakheostomi
- Tube dada
- Stabilisasi leher: kolar kaku, tong Gardner-Wells dan traksi
- Parasentesis abdominal
5. Pemeriksaan Neurologis:
- Kemampuan membuka mata
- Respons motor
- Respons verbal
- Reaksi cahaya pupil
- Okulosefalik (dolls)
- Okulovestibular (kalorik)
6. Obat-obat Terapeutik:
- Bikarbonat sodium
- Fenitoin(?)
- Steroid (???)
- Mannitol
- Hiperventilasi
7. Tes Diagnostik: (desenden menurut yang diminati)
- CT Scan
- Ventrikulogram udara
- Angiogram

Di Unit Perawatan Intensif (UPI/ICU)

Kelompok ini terdiri dari penderita yang tidak mampu mengikuti perintah sederhana bahkan setelah stabilisasi kardiopulmonal. Walau definisi tersebut memasukan cedera otak dalam spektrum yang luas, ia mengidentifikasikan kelompok dari penderita yang berada pada risiko maksimal atas morbiditas dan mortalitas. Pendekatan 'tunggu dan lihat' sangat mencelakakan dan diagnosis serta tindakan tepat adalah paling penting. Pengelolaan pasien dibagi lima tingkatan:

(1) stabilisasi kardiopulmoner,
(2) pemeriksaan umum,
(3) pemeriksaan neurologis,
(4) prosedur diagnostik, dan
(5) indikasi operasi.

Transportasi penderita cedera kepala

Transportasi penderita cedera kepala terutama penderita dengan cedera kepala sedang dan berat harus cepat dilakukan untuk mendapatkan tindakan medis yang cepat, tepat dan aman. Karena keterlambatan sampai di rumah sakit, 10 % dari total penderita cedera kepala di Amerika Serikat meninggal.

Pada penderita cedera kepala berat sering menderita gangguan pernafasan, syok hipovolemik, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, tekanan intrakranial meninggi, kejang-kejang, gangguan kardiovaskuler, karena itu perlu penanganan yang cepat. Tindakan gawat darurat yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan penderita yaitu; menjaga kelancaran jalan nafas (air way), oksigenasi yang adekuat, resusitasi cairan, melindungi vertebra servikalis dan torakolumbal, identifikasi dan stabilisasi perdarahan ekstrakranial, dan menilai tingkat kesadaran penderita.

Dalam penganan pasien dengan cedera kepala berat transportasi sangat penting, karena berhubungan dengan cedera kepala sekunder. Cedera kepala sekunder yang sering terjadi dan menyebabkan kematian adalah hipoksia dan hipotensi.

Waktu tunggu penderita dirumah sakit untuk penanganan penderita cedera kepala untuk cedera kepala berat. Pada penderita cedera kepala berat dengan perdarahan subdural sebaiknya interval waktu kejadian trauma dan tindakan yang dilakukan kurang dari 4 jam, sedangkan pada penderita dengan interval waktu lebih dari 12 jam prognosis buruk.

Seelig et al telah melakukan penelitian tentang pentingnya penanganan dan transportasi yang cepat pada penderita dengan cedera kepala berat tertutup dan perdarahan subdural akut. Penderita dengan hematoma yang dievakuasi lebih kurang 4 jam, angka kematiannya 30% dan 65% dengan keluaran baik. Sedangkan penderita yang dioperasi diatas 4 jam, angka kematiannya 90% dan kurang dari 10 % dengan keluaran baik.

Faktor-faktor yang memperburuk prognosis pada penderita cedera kepala yaitu; terlambatnya penanganan awal/resusitasi, pengangkutan/transport yang tidak adekuat, dikirim ke rumah sakit yang tidak adekuat, terlambatnya delakukan tindakan bedah dan adanya cedera multipel yang lain.

Pengukuran keluaran penderita cedera kepala

Berdasarkan pengukuran GCS di Amerika mayoritas (75-80%) penderita cedera kepala adalah cedera kepala ringan, cedera kepala sedang dan berat yang masing-masingnya antara 10% dan 20% . Sebagian besar penderita dengan cedera otak ringan pulih sempurna, tapi terkadang ada gejala sisa yang sangat ringan. Perburukan yang tidak terduga pada penderita cedera kepala ringan lebih kurang 3% yang mengakibatkan disfungsi neurologis yang berat kecuali bila perubahan kesadaran dapat dideteksi lebih awal. Sekitar 10-20% dari penderita cedera kepala sedang mengalami perburukan dan jatuh dalam koma. Pada penderita dengan cedera kepala berat sering diperburuk dengan cedera skunder. Hipoksia yang disertai dengan hipotensi pada penderita cedera kepala berat akan menyebabkan mortalitas mencapai 75%.

Kecacatan akibat cedera kepala tergantung dari tingkat beratnya cedera, lokasi cedera, umur dan kesehatan penderita. Beberapa kejadian kecacatan tersering yaitu masalah kesadaran (fikiran, ingatan dan akal sehat), proses sensorik (melihat, mendengar, meraba, mengecap dan menghidu), berkomunikasi (ekspresi dan pemahaman) dan tingkah laku atau kesehatan mental (depresi, gelisah/cemas, perubahan kepribadian, agresif/menyerang, dan keadaan sosial yang tidak normal) .

Menentukan keluaran dan prognosis dari cedera kepala sangat sulit. Terlambatnya penanganan awal/resusitasi, pengangkutan/transport yang tidak adekuat, dikirim ke rumah sakit yang tidak adekuat, terlambatnya dilakukan tindakan bedah dan adanya cedera multiple yang lain merupakan faktor-faktor yang memperburuk prognosis penderita cedera kepala. Untuk keluaran penderita, pengukuran standar yang biasa digunakan adalah Glasgow Outcome Scale (GOS) yang dikemukakan oleh Jennett dan Bond (1975).

Moderate disability

Good recovery Merupakan akibat langsung dari cedera kepala. Penderita menjadi sadar kembali dan meninggal setelah itu karena komplikasi skunder dan penyebab lain.

Penderita tidak memberikan respon dan tidak bisa berbicara untuk beberapa waktu kedepan. Penderita mungkin dapat membuka mata dan menunjukkan siklus tidur dan bangun tetapi fungsi dari korteks serebral tidak ada.

Membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukan aktifitas sehari-hari disebabkan karena kecacatan mental atau fisik, biasanya kombinasi antara keduanya. Kecacatan mental yang berat kadang-kadang juga dapat dimasukkan dalam klasifikasi ini pada penderita dengan kecacatan fisik sedikit atau tidak ada.

Dapat berjalan-jalan menggunakan transportasi umum dan bekerja di tempat-tempat tertentu (dengan perlindungan) dan dapat beraktifitas bebas sejauh kegiatan tersebut tidak mengkhawatirkan. Ketidakmampuan(kecacatan) penderita mencakup perubahan derajat dari dispasia, hemiparise, atau ataksia maupun berkurangnya intelektual dan daya ingat dan perubahan personalitas. Lebih mampu untuk melakukan hal-hal protektif diri.

Dapat melanjutkan kehidupan normal sekalipun terjadi keadaan defisit neurologis

Evaluasi/taksiran penilaian praktis dari keluaran penderita cedera kepala berat.

GOS dibagi menjadi 5 skala yaitu:
1. good recovery,
2. moderate disability,
3. severe disability,
4. vegetative dan
5. death.

Dari skala di atas dapat dibagi menjadi keluaran baik/favorable outcome (good recovery dan moderate disability) dan keluaran buruk/unfavorable outcome (severe disability, vegetative dan dead). Cederatic Coma Data Bank menganalisa 760 penderita cedera kepala dan mengidentifikasi 5 faktor yang berhubungan dengan keluaran buruk yaitu; umur penderita diatas 60 tahun, GSC .

Data dari Rosner, Marion and rekan kerjanya melaporkan total penderita 241 orang dengan GCS.

Dari data Journal of Nuerotaruma ada beberapa penelitan terbaru yang berhubungan dengan tingkat keparahan ataupun keluaran penderita cedera kepala terutama penderita cedera kepala berat. Kadar magnesium serum yang rendah berhubungan dengan keluaran buruk pada penderita setelah cedera kepala berat. Respon stres berperan oenting dalam penurunan konsentrasi magnesium. Serum hipomagnesemia menjadi independent marker untuk beratnya cedera kepala.

Penderita cedera kepala dengan usia 75 tahun atau lebih secara signifikan tidak dapat bertahan hidup setelah tindakan bedah dari pada penderita muda (14-64 tahun). Von Willebrand Factor (VWF) dikenal sebagai biomaker dari cedere pada endotelial. Peningkatan dari kadar serum VWF terjadi karena aktivasi endotelial pada cedera kepala berat. Peningkatan serum VWF pada cedera kepala cerat merupakan tanda dari keluaran buruk dari penderita. High intracranial pressure (HICP) adala komplikasi yang sering dijumpai dan berbahaya dari cedera kepala, berat dan durasi HICP berhubungan dengan keluaran buruk penderita dan memerlukan terapi yang intensif .

Komplikasi

Koma. Penderita tidak sadar dan tidak memberikan respon disebut coma. Pada situasi ini, secara khas berlangsung hanya beberapa hari atau minggu, setelah masa ini penderita akan terbangun, sedangkan beberapa kasus lainya memasuki vegetative state atau mati penderita pada masa vegetative statesering membuka matanya dan mengerakkannya, menjerit atau menjukan respon reflek. Walaupun demikian penderita masih tidak sadar dan tidak menyadari lingkungan sekitarnya. Penderita pada masa vegetative state lebih dari satu tahun jarang sembuh.

Seizure. Pederita yang mengalami cedera kepala akan mengalami sekurang-kurangnya sekali seizure pada masa minggu pertama setelah cedera. Meskipun demikian, keadaan ini berkembang menjadi epilepsy.

Infeksi. Faktur tengkorak atau luka terbuka dapat merobekan membran (meningen) sehingga kuman dapat masuk. Infeksi meningen ini biasanya berbahaya karena keadaan ini memiliki potensial untuk menyebar ke sistem saraf yang lain.

Kerusakan saraf. Cedera pada basis tengkorak dapat menyebabkan kerusakan pada nervus facialis. Sehingga terjadi paralysis dari otot-otot facialis atau kerusakan dari saraf untuk pergerakan bola mata yang menyebabkan terjadinya penglihatan ganda.

Hilangnya kemampuan kognitif. Berfikir, akal sehat, penyelesaian masalah, proses informasi dan memori merupakan kemampuan kognitif. Banyak penderita dengan cedera kepala berat mengalami masalah kesadaran.

Penyakit Alzheimer dan Parkinson. Pada kasus cedera kapala resiko perkembangan terjadinya penyakit alzheimer tinggi dan sedikit terjadi parkinson. Resiko akan semakin tinggi tergantung frekuensi dan keparahan cedera.

Operasi Cedera Kepala

Hasil segera yang ingin dicapai dari operasi adalah kembalinya pergeseran garis tengah, kembalinya tekanan intrakranial ke dalam batas normal, kontrol pendarahan dan mencegah perdarahan ulang.

lndikasi operasi pada cedera kepala harus mempertimbangkan hal dibawah ini :
- Status neurologis
- Status radiologis
- Pengukuran tekanan intrakranial
- Secara umum indikasi operasi pada hematoma intrakranial :
- Massa hematoma kira-kira 40 cc
- Masa dengan pergeseran garis tengah lebih dari 5 mm
- EDH dan SDH ketebalan lebih dari 5 mm dan pergeseran garis tengah dengan GCS 8 atau kurang.
- Kontusio cerebri dengan diameter 2 cm dengan efek massa yang jelas atau pergeseran garis tengat lebih dari 5 mm.
- Pasien – pasien yang menurun kesadarannya dikemudian waktu disertai berkembangnya
- tanda-tanda lokal dan peningkatan tekanan intraknial lebih dari 25 mm Hg.

lndikasi Burr hole eksplorasi dilakukan bila pemeriksaan CT Scan tidak memungkinkan dan didapat :
• Dilatasi pupil ipsilateral
• Hemiparese kontralateral
• Lucid interval/penurunan GCS tiba-tiba

Indikasi operasi pada fraktur depres :
- Lebih dari satu tabula
- Adanya defisit yang berhubungan dengan bagian otak dibawahnya
- LCS leakage
- Fraktur depres terbuka
- Preventif growing fracture pada anak.

Dari traumatik koma data bank ditemukan pada studi 275 pasien dengan hematoma tutorial didapat : 58% SDH, 26% ICH dan 16% EDH.

Indifikasi Operasi

Segera yang ingin dicapai dari operasi adalah kembalinya pergeseran garis tengah, kembalinya tekanan intrakanial ke dalam batas normal, kontrol pendarahan dan mencegah pendarahan ulang.

Indikasi operasi pada cedera kepala harus mempertimbangkan hal dibawah ini :
- Status neurologis
- Status radiologis
- Pengukuran tekanan intrakranial

Secara umum indikasi operasi pada hematoma intrakranial :
- Massa hematoma kira-kira 40 cc
- Massa dengan pergeseran garis tengah lebih dari 5 mm
- IED dan SDH ketebalan lebih dari 5 mm dan pergeseran Baris tengah dengan GCS 8 atau kurang.
- Konstusio cerebri dengan diameter 2 cm dengan efek massa yang jelas atau pergeseran garis tengah lebih dari 5 mm.
- Pasien-pasien yang menurun kesadarannya dikemudian waktu disertai berkembangnya



- tanda-tanda lokal dan peningkatan tekanan intraknial lebih dari 25 mm Hg.

Indikasi BWT hole eksplorasi dilakukan bila pemeriksaan CT Scan tidak memungkinkan dan didapat :
- Dilatasi pupil ipsilateral
- Hemiparese kontralateral
- Lucid interval/penurunan GCS tiba-tiba.



Indikasi operasi pada faktur depres :
- Lebih dari satu tabula
- Adanya defisit yang berhubungan dengan bagian otak dibawahnya
- LCS leakage
- Fraktur depres terbuka
- Preventif growing fracture pada anak.

Preparasi Pra 0perasi



- Inform concernt
- Cegah hipotensi, hipoksia
- Periksa foto turaks dan cervikal
- Dua infus line
- Periksa AGD, elektrolit dan darah rutin serta cross match
- Pasang kateter
- Profilaksis antibiotik sebelum operasi dimulai.
- ETT yang adekuat
- indungi kedua mata dari cairan dan tekanan.

TEKNIK OPERASI

1. Burr hole explorasi
* Tentukan areanya : disisi pupil yang dilatasi, kontra lateral hemiparese.
* Burr hole I : di temporal walaupun frakturya di lokasi yang berbeda. Bila positif lanjutkan dengan craniotomy. Bila negatif lakukan langkah burr hole selanjutnya.
* Burr hole II : di frontal
* Burr hole III : di parietal, bila negatif dilakukan disisi sebaiknya.
* Ada yang menambahkan burr hole IV di fossa posterior
* Incisi linier dan bila perlu dilanjutkan dengan question mark.
* Bila duramater tampak tegang dan kebiruan tapi clothing belum ditemukan sebaiknya dilakukan lebih dahulu burr hole bilateral baru dilakukan mengintip duramater karena sering subdural tersebut hanya tipis Baja.

2. Epidural hematom :
* lokasi : 50% ditemporal, 15%-20% di frontal dan sisanya di occipital, fossa posterior dan parietal
* bila ada mix lessi (hipodens clan hiperdens )curigai adanya gangguan pembekuan darah
teknik :
a. Incisi bentuk question mark atau tapal kuda
b. Burr hole I di daerah yang paling banyak clothing biasanya di lobus temporal, bila perlu dilanjutkan dulu kraniektomi kecil dan evakuasi clothing untuk mengurangi tekanan, lalu dilanjutkan kraniotomi untuk mengevakuasi massa.
c. Bila duramater tegang kebiruan lakukan intip dura dengan incisi kecil
d. Kemudian duramater dijahit clan dilakukan gantung dura

3. Subdural hematom :
* lokasi paling sering di temporal dan parietal
* incisi bentuk tapal kuda atau question mark
* Kraniotomi seekspos mungkin dan bila ada clothing kecil dan tidak jelas terlihat sebaiknya ditinggalkan.
* duramater dibuka dan dievakuasi clothingnya.
* duramater dijahit waterproof, bila swelling tidak dapat dikontrol, biarkan terbuka dan tulang tidak dipasang dan langsung diflap.

4. Intracerebral hematom :
* lokasi : 80% -90% di temporal dan frontal
* kraniotomi secara prinsip sarna dengan perdarahan intrakranial lainnya
* perdarahan dirawat dengan bipolar, surgicel
* durameter dijahit waterproof

5. Hematoma fossa posterior
* 80% -100% pasien EDH fossa posterior disertai fraktur os occipitalis
* bila ada EDH supra dan infra tentorial, 30% disertai hidrocefalus
* incisi kulit linier/stick golf di para median atau midline
* konservatif bila simptom minimal dan stabil terutama bila ada fraktur di atas sinus

Hasil

1. EDH: bila cepat dioperasi mortality kurang dari 10%
2. SDH:
Serlig et al :
* operasi dalam 4 jam pertama mortality 30%
* operasi setelah 4 jam mortality 90%
Hasselberger et al :
* pasien koma kurang dari 2 jam mortality 47%
* pasien koma lebih dari 2 jasm mortality 80%
3. ICH: mortality 27% -50%


KEPUSTAKAAN

Dwliel F.Kelly.Curtis.D.Donald P.Becker: 1996 General principles of head injury management dalam Narayan Raj.K, James E. Wilberger Jr, Jhon.Povlishock (ed); Neuro trauma

Daniel F.Kelly,D.L.Nikos,D.P.Becker: 1996, Diagnosis and treatmen of moderate and severe head injuries (ed) neurological surgery, Philadelphia, USA, W.B.Sauders and co.

G.M.Teasdale, S.Galbrath: 1989, head injuries, Rob & Smith's (ed) Operative surgery,London.

Narayan. K. Raj: 1994, closed head injuries, Setti. S.Rengachary, Robert H. Wilkins (ed) principles of neurosurgery, Minnesota, USA, World Publishing.

Jennet Bryan: 1997; Outcome after severe head injury, Peter Reilly, Ross Bullock (ed)head injury, London, UK, Chapman and Hall.

Krauss F.Jess: 1993; Epidemology of head injury, Cooper R.Paul (ed) head injury, Baltimore, USA, William & Wilkins.

Mark S.Greenberg; 1994; handbook of neurosurgery, Greenberg graphics inc

Sabtu, Desember 11, 2010

Run Time Untuk VFP9

Untuk menjalankan Program Executable (Applikasi) yang dirancang menggunakan bahasa pemograman Visual Foxpro9 anda tidak perlu menginstall VFP9 di client anda. Cukup dengan membawa file dibawah ini dan ditempatkan di public folder.

Klik Untuk Download...!!!

Minggu, November 29, 2009

Tutorial Mengolah Data Dengan Visual Fox Pro

Tutorial Mengolah Data Dengan Visual Fox Pro Lengkap Bergambar . PDF ini berisi langkah demi langkah belajar Pengolahan Database dengan Software Microsoft Visual Fox Pro yang di paparkan dengan gamblang dan mudah di pahami.

Dengan pembahasan yang rinci, anda semuanya pasti bisa dengan cepat memahami cara menggunakan Program Database ini dengan waktu yang singkat. Klik untuk Download...!!

Rabu, November 11, 2009

IT Metropolis

Hadir sebuah Group Fb baru, IT Metropolis untuk menjembati sesama pelaku profesi IT ataupun pratiksinya. Group Fb ini dikhususkan sebagai media sesama kalangan profesi IT sebagai ajang sharing informasi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan profesi IT yang mana secara umum dunia profesi IT bisa dikelompokan secara garis besar akan 3 golongan:
1. Software, mencakup :
- Programmer
- Web Degsigner
- Web... Programmer
2. Hardware, mencakup :
- Technical Enginer
- Network Enginer
3. OS, mencakup
- EDP
- System Admin

Bagi yang berminat silahkan klik disini

Selasa, Juli 28, 2009

Solved: Windows cannot start the Windows Firewall/ICS service

When go to Control Panel and double click on Windows Firewall, then get a prompt saying "Windows Firewall settings cannot be displayed because the associated service is not running" and it asks me whether I "want to start the Windows Firewall/Internet Connection Sharing (ICS) service."
Solved it by : From the Command Prompt, enter:

netsh winsock reset

Minggu, Juni 01, 2008

Default Path Direktory.

Tiba tiba saya tergelitik untuk membahas perbedaan antara command Sys(5)+Sys(2003) dengan Sys(16) untuk menentukan Direktori dimana Program kita berada.

Banyak rekan-rekan sesama Foxers menyarankan untuk menggunakan yang pertama . Alasannya paling simple, cukup dengan membuat command tersebut, maka default Path Direktory dimana Program kita berada sudah Ok. Praktis dan mudah.

Tapi tahukan anda jika tidak hati2 maka penggunaan command pertama tsb bisa bermasalah.

Berdasarkan Help VFP sendiri:
Sys(5) = Default drive or volume.
Sys(2003) = Current directory.
Jadi dengan menjalan command tsb, system akan menempatkan default direktori secara otomatis ketempat mana dia diexecutin. Ketika kita menjalankan program dari direktori asal program tsb, maka secara otomatis default direktory juga terset ketempat itu.

Tapi apa jadinya jika kita tidak meng executing program dari tempat tersebut ?

Misal, pertama kali membuka program Microsfoft Visual Foxpro 9 yang mana defaultnya adalah HOME()="C:\Program Files\Microsoft Visual Foxpro 9\". Nah, tentu saja Perintah Sys(5)+Sys(2003) justru akan mengacaukan alamat default direktori program yang sudah kita rancang. Karena default tidak berada ditempat semestinya tapi justru di HOME() dari VFP itu sendiri.

Bagaimana dengan command Sys(16) yang menurut Help Vfp sendiri berarti 'Executing program file name'.

Justru menurut saya ini adalah langkah paling aman yang mesti gunakan. Walau dalam penggunaan command ini sedikit lebih ribet dan panjang dari langkah pertama , tapi default program kita lebih terjamin berada ditempat yang seharusnya.

Berikut adalah modifikasi prosedur yang selama ini saya mamfaatkan selama ini untuk membuat sebuah program awal (main procedur), barangkali bisa bermamfaat bagi rekan2 sesama fox mania.

Public PbPath
cCurr= Sys(16,1)
nPath= At(":",cCurr)-1
If nPath<1 npath="1">&&& Fungsi ini boleh diabaikan karena hanya bermamfaat untuk menghilangkan error yang tidak perlu, jika Program kita executing dari jaringan Network.
Endif
lPath = Rat("\", cCurr) -
(nPath)
PbPath=Alltrim(Substr(cCurr, nPath, lPath))
* Publis Global Variable bermamfaat saat suatu ketika kita memindahkan default ke tempat lain
dan untuk mereset ke Direktory awal cukup dengan merecallnya kembali. Anda Boleh juga mengabaikan untuk mempublis fungsi ini untuk memperpendek pengetikan prosedure.
Set Default To (PbPath)
Jauh lebih panjang dari cuma membuat command Sys(5)+Sys(2003), akan tetapi kita lebih terjamin berada di default direktory yang sebenarnya.

Kamis, Mei 29, 2008

virus KSPOOLD dan Langkah untuk merecovey

Langkah untuk merecover file DBF yang rusak oleh virus KSPOOLD

Kerusakan data yang disebabkan oleh virus KSPOOLD adalah mengganti header dari file yang berextension DBF (Kalau file data dbf yg sudah diganti extensionnya, tidak diserang). Karena header setiap file dbf tidak sama ukurannya, ini tergantung dari jumlah field, maka untuk file yang jumlah fieldnya sedikit, virus bisa menyerang record. Hal ini diperhatikan karena disengaja oleh pembuatnya agar ukuran file tidak berubah. Untuk memperbaiki header file dbf yang rusak bisa dilakukan dengan bantuan utility UltraEdit yang dapat di download versi trial nya di :
http://www.tucows.com/preview/194610


Langkah perbaikan :
1. Buka file dbf yang rusak
2. Buka file yang masih baik dgn struktur yang sama dengan file yang rusak, atau buat file baru yang strukturnya sama dgn file yang rusak


http://www.4freeimagehost.com/resized/661e423da80b.jpg

3. Blok header data yang clean mulai dari batas header dgn record sampai ke awal file, klik
kanan pilih copy



http://www.4freeimagehost.com/resized/356df9b42c02.jpg

4. Blok header data yang rusak mulai dari batas antara header dgn record sampai awal file, klik kanan pilih paste




http://www.4freeimagehost.com/resized/b505b91753db.jpg
5. Simpan data yang rusak dgn cara masuk ke Menu, Pilih File lalu Save. Perbaikan data tahap pertama sudah selesai, hasilnya masih belum bisa dibaca oleh VFP, karena jumlah record yang tercatat pada data yang rusak tidak sama dengan yang di kopikan.
6. Perbaikan selanjutnya saya menggunakan tool yang berfungsi untuk memperbaiki header file dbf yg kerusakannya tidak parah dgn Tabel Repair Utility (Program Terlampir)
7. Klik Pilih File, cari file yang disimpan melalui UltraEdit, ini tampilannya

8. Klik Tombol Ganti Pada baris jumlah Recor
9. Klik Tombol Ganti Pada baris ukuran file
10. Bila File yg Anda Recover mempunyai Field Memo sedangkan file memonya tidak tersedia, ubah Table Flag menjadi Has CDX File, kemudian klik Ganti.
11. Klik Buka File ...untuk membuka file yang sudah di recover, pada bagian bawah terdapat record sampah, buang saja .. !

Data yang rusak sudah bisa diselamatkan.

Semoga dapat membantu.
Salam Fox Mania.

(Kutipan dari PaissiaP al. Ismuddin mailto:ismuddin@yahoo.com)

Kill Virus KSPOOLD

Buat File BAT dengan menggunakan Notepad serta berilah namanya sesuai keinganan anda (mis. kspoold_killer.bat) dan simpan kedalam ext bat.

Copy pastekan command dibawah ini kedalam file tsb. Jangan lupa untuk menyimpannya balik.

echo off
cls
REM — ubah warnacolor a
REM — ubah judultitle KSPOOLD KILLER * by M. Husni Adil
REM — masuk ke
direktori sistem%SYSTEMDRIVE%cd %SYSTEMROOT%\system32
echo
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~echo KSPOOLD KILLER * by M. Husni
Adilecho ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~echo After you press any
keys on your keyboard, I doecho - removing related registryecho - stopping
kspoold processecho - deleting kspoold file in the system directoryecho
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~echo.
pause
echo.REM —
hapus registry yang dibuat sebagai service virusreg delete
“HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\ControlSet001\Services\kspooldaemon” /freg delete
“HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\ControlSet002\Services\kspooldaemon” /freg delete
“HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Services\kspooldaemon” /f
REM —
hentikan proses virustaskkill /IM kspoold.exe /F /T
REM — set atribut file
virus menjadi normalattrib -s -h -r kspoold.exe
REM — hapus file virusdel
kspoold.exe
cls
echo ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~echo
KSPOOLD KILLER * by M. Husni Adilecho
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~echo After you press any keys on
your keyboard, I doecho - removing related registryecho - stopping kspoold
processecho - deleting kspoold file in the system directoryecho
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~echo.echo Press any key to
continue . . .echo.
echo Well done - The “kspoold” was completely
removedecho.
pause

Get a Serial

*!*Get a serial#
LPARAMETERS drvPath
IF PCOUNT()=0
drvPath = "C:"
ENDIF
LOCAL FS,F1,cSerial
drvPath = IIF(LEN(drvPath)=1,drvPath+":",drvPath)
fs = CreateObject("Scripting.FileSystemObject")
f1 = fs.GetDrive(fs.GetDriveName(fs.GetAbsolutePathName(drvPath)))
cSerial = f1.SerialNumber
RELEASE fs,f1
RETURN RIGHT(TRANSFORM(cSerial, "@0"), 8)

Rabu, Mei 28, 2008

Select Dengan Limit

TEXT TO sqlcmd PRETEXT 3 NOSHOW
SELECT user_id,pass_id,grup_id,nama_grup,pemakai.tanggal,pemakai.author from pemakai
inner join grup on pemakai.grup_id=grup.kode_grup order by user_id asc limit 10
ENDTEXT

Register Dll

***********************************************************************
* Download from : http://fox-mania.blogspot.com/
***********************************************************************
* Program....: REGISTER.PRG
* Compiler...: Visual FoxPro 07.00.0000.9465
* Purpose....: Wrapper to Select and Register DLL & EXE files
***********************************************************************
LPARAMETERS tlUnRegister, tcFile, tlNoShow
LOCAL llReg, lcTxt, lcFile, lcType, lnResult, lcCmd, lcParams, lcStr, lcMsg
*** Set the action flag based on first param
*** If EMPTY() assume .F., therefore REGISTER
*** IF NOT EMPTY() assume .T. and UN-REGISTER
llReg = IIF( EMPTY( tlUnRegister ), .F., .T. )
*** Set the GetFile Prompt accordingly
lcTxt = IIF( tlUnRegister, "UN-Register", "Register" )
IF VARTYPE( tcFile ) = "C" AND NOT EMPTY( tcFile )
*** We can assume we got a file name
IF FILE( tcFile )
*** And the file exists on the current search path
lcFile = FULLPATH( tcFile )
ELSE
*** We need to get it's full name and location
lcFile = GETFILE( 'DLL;EXE', lcTxt )
ENDIF
ELSE
*** Get the full name and location of the file
lcFile = GETFILE( 'DLL;EXE', lcTxt )
ENDIF
*** Did we end up with a file?
IF EMPTY( lcFile )
MESSAGEBOX( "No file specified to " + lcTxt, 64, "Nothing to do" )
RETURN
ENDIF
*** If we get this far we have a defined action, and a file name to work with
*** Set up the ShellExecute API function to run the process
DECLARE INTEGER ShellExecute IN SHELL32.DLL ;
INTEGER lnHWnd, ;
STRING lcAction, ;
STRING lcTarget, ;
STRING lcExeParams, ;
STRING lcDefDir, ;
INTEGER lnShowWindow
*** Populate the File and Parameter variables depending on the task
lcType = JUSTEXT( lcFile )
IF llReg
*** UNREGISTER
IF lcType = "DLL"
lcCmd = "REGSVR32"
lcParams = " /s /u " + lcFile
ELSE
lcCmd = lcFile
lcParams = " /unregserver"
ENDIF
ELSE
*** REGISTER
IF lcType = "DLL"
lcCmd = "REGSVR32"
lcParams = " /s " + lcFile
ELSE
lcCmd = lcFile
lcParams = " /regserver"
ENDIF
ENDIF
*** Now Call ShellExecute to run the registration
lnResult = ShellExecute( 0, 'open', lcCmd, lcParams, "", 1 )
*** Result >32 = Success, otherwise its an error code (see below for meaning)
IF lnResult <=32 AND NOT tlNoShow
*** Show the error list
TEXT TO lcStr NOSHOW
0 The operating system is out of memory or resources.
1 The function is incorrect.
2 The specified file was not found.
3 The specified path was not found.
5 Access denied
8 Out of memory
11 The .exe file is invalid (non-Win32® .exe or error in .exe image).
26 Sharing violation
27 Association incomplete or invalid
28 DDE request timed out
29 DDE transaction failed
30 Other DDE transactions were being processed
31 No application associated with file name extension or file is not printable
32 DLL Not found
ENDTEXT
lcMsg = UPPER(lcTxt) + " Operation failed with Error: " + TRANSFORM( lnResult ) + CHR(13) + CHR(10)
lcMsg = lcMsg + "Command Line = '" + lcCmd + " " + lcParams + "'" + CHR(13) + CHR(10)
lcMsg = lcMsg + " ----------------------------------------------------"+ CHR(13) + CHR(10)
lcMsg = lcMsg + lcStr
MESSAGEBOX( lcMsg, 16, 'API Call Failed' )
ENDIF
*** Return the result
RETURN lnResult

Kamis, Mei 22, 2008

Format Hari

Clear
* Cara 1:
? Iif(Dow(Date())=2,"Senen, ",Iif(Dow(Date())=3,"Selasa, ",Iif(Dow(Date())=4,"Rabu, ",Iif(Dow(Date())=5,"Kamis, ",Iif(Dow(Date())=6,"Jum'at, ",;
Iif(Dow(Date())=7,"Sabtu, ","Minggu, "))))))+Substr(Dtos(Date()),7,2)+"-"+Substr(Cmonth(Date()),1,3)+"-"+Substr(Dtos(Date()),1,4)

* Cara 2:
nHr=Dow(Date())
cHi=Alltrim(Substr("MingguSenin SelasaRabu Kamis Jum'atSabtu",(nHr*6)-5,6))
nBl=Month(Date())
cBl=Alltrim(Substr("Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus SeptemberOktober November Desember ",nBl*9-8,9))
cTgl=cHi+", "+Substr(Dtos(Date()),7,2)+"-"+cBl+"-"+Substr(Dtos(Date()),1,4)
? cTgl

Kamis, Mei 15, 2008

Bhs C Dasar - Chapter VIII

#include
#include

int main()
{
char input_char;

printf("Hit any key - to stop hit a $\n");
do
{
input_char = getch();
printf("Input character is %c, numerical value is %3d\n",
input_char, input_char);
} while (input_char != '$');

return 0;
}

contoh lain

#include
#include
char storage[80];
int main()
{
char c;
int index = 0;

printf("Tekan sembarang character, keluar dari program tekan X\n");

do
{
c = getch(); /* ambil sebuah character */
if (index < 79) /* batas dari 79 characters */
{
storage[index] = c;
index++;
}
putchar(c); /* tampilkan hit key */
} while (c != 'X');
storage[index] = 0;
printf("%s\n", storage);
printf("\nAkhir dari program.\n");

return 0;

}

Bhs C Dasar - Chapter VII

struct dalah kumpulan dari berbagai tipe data menjadi satu.
cara pendeklarasian :
struct nama{
int a;
float b ; // berbeda bisa dijadikan dalam 1 struct;
char z;
};

contoh pemakaian sebagai berikut :
struct nama{
int a;
float b ;
char z;
};

void main() {
nama.a =5;
nama.b =4.0;
nama.z = 'a';
}
contoh lain berupa Array of struct
#include
#include
struct
{
char what[25];
int legs, arms;
} object[6];

int main()
{
int index;

strcpy(object[0].what, "human being");
object[0].legs = 2;
object[0].arms = 2;

strcpy(object[1].what, "dog");
object[1].legs = 4;
object[1].arms = 0;

strcpy(object[2].what, "television set");
object[2].legs = 4;
object[2].arms = 0;

strcpy(object[3].what, "chair");
object[3].legs = 4;
object[3].arms = 2;

strcpy(object[4].what, "centipede");
object[4].legs = 100;
object[4].arms = 0;

strcpy(object[5].what, "spider");
object[5].legs = 6;
object[5].arms = 0;

for(index = 0 ; index < 6 ; index++)
{
printf("A %s has %d legs and %d arms.\n", object[index].what,
object[index].legs, object[index].arms);
}

return 0;
}

contoh kombinasinya , menggunakan pointer:
#include
#include
struct
{
char what[25];
int legs, arms;
} object[6], *point;

int main()
{
int index;

strcpy(object[0].what, "human being");
object[0].legs = 2;
object[0].arms = 2;

strcpy(object[1].what, "dog");
object[1].legs = 4;
object[1].arms = 0;

strcpy(object[2].what, "television set");
object[2].legs = 4;
object[2].arms = 0;

strcpy(object[3].what, "chair");
object[3].legs = 4;
object[3].arms = 2;

strcpy(object[4].what, "centipede");
object[4].legs = 100;
object[4].arms = 0;

strcpy(object[5].what, "spider");
object[5].legs = 6;
object[5].arms = 0;

point = object;
for(index = 0 ; index < 6 ; index++)
{
printf("A %s has %d legs and %d arms.\n", point->what,
point->legs, point->arms);
point++;
}
return 0;
}

#include
#include

struct child
{
char initial;
int age;
int grade;
} *boy, *girl;

int main()
{
boy = (struct child *)malloc(sizeof(struct child));

boy->initial = 'R';
boy->age = 15;
boy->grade = 75;

girl = (struct child *)malloc(sizeof(struct child));

girl->age = boy->age - 1;
girl->grade = 82;
girl->initial = 'H';

printf("%c is %d years old and got a grade of %d\n",
girl->initial, girl->age, girl->grade);

printf("%c is %d years old and got a grade of %d\n",
boy->initial, boy->age, boy->grade);

return 0;
}

#include
#include

struct child
{
char initial;
int age;
int grade;
} *kids[12];

int main()
{
int index;

for (index = 0 ; index < 12 ; index++)
{
kids[index] = (struct child *)malloc(sizeof(struct child));
kids[index]->initial = 'A' + index;
kids[index]->age = 16;
kids[index]->grade = 84;
}

kids[3]->age = kids[5]->age = 17;
kids[2]->grade = kids[6]->grade = 92;
kids[4]->grade = 57;

*kids[10] = *kids[4]; /* Structure assignment */

for (index = 0 ; index < 12 ; index++)
printf("%c is %d years old and got a grade of %d\n",
kids[index]->initial, kids[index]->age,
kids[index]->grade);

return 0;
}

Bhs C Dasar - Chapter VI

untuk bermain dengan file kita harus mendeklarasikannya terlebih dahulu;
contoh;

FILE *ptrfile ; //pointer penunjuk kesebuah file
ptrfile = fopen(outfilename, "w"); /// membuka suatu file ,ditampung disebuah ptrfile
fclose (outfilename); // menutup kembali file yang barusan dibuka

perhatikan tanda "w " , itu disebut dengan modus
modus sangat perlu jika kita bermain dengan file :
r ³ Open for reading only
w ³ Create for writing
³ If a file by that name already exists, it will be overwritten.
a ³ Append; open for writing at end of file, or create for
³ writing if the file does not exist.
r+ ³ Open an existing file for update (reading and writing)
w+ ³ Create a new file for update (reading and writing).
³ If a file by that name already exists, it will be overwritten.
a+ ³ Open for append; open for update at the end of the file, or
³ create if the file does not exist.


contoh :
#include
int main()
{
FILE *infile, *outfile, *printer;
char infilename[25], outfilename[25];
int c;
printf("Enter input file name ----> ");
scanf("%s", infilename);
infile = fopen(infilename, "r");

printf("Enter output file name ---> ");
scanf("%s", outfilename);
outfile = fopen(outfilename, "w");
printer = fopen("PRN", "w");
do
{
c = getc(infile);
if (c != EOF)
{
putchar(c);
putc(c, outfile);
putc(c, printer);
}
} while (c != EOF);
fclose(printer);
fclose(infile);
fclose(outfile);
return 0;
}
contoh lain :
#include
int main()
{
FILE *infile;
char *c, infilename[25], inputline[100];
int line = 1;

printf("Enter input file name ----> ");
scanf("%s", infilename);
infile = fopen(infilename, "r");

printf("%5d", line);
do
{
c=fgets(inputline, 100, infile); /* baca perbaris */
if (c != NULL)
{
printf("%5d %s", line, inputline);
line++;
}
} while (c != NULL);

fclose(infile);

return 0;
}

#include
int main()
{
FILE *fp1;
char oneword[100], filename[25];
char *c;

printf("Enter filename -> ");
scanf("%s", filename); /* baca nama file */
fp1 = fopen(filename, "r");
if (fp1 == NULL)
{
printf("File doesn't exist\n");
exit (1);
}
else
{
do
{
c = fgets(oneword, 100, fp1); /* baca perbaris dari file*/
if (c != NULL)
printf("%s", oneword); /* tampilkan dimonitor */
} while (c != NULL); /* ulangi sampai ketemu NULL
*/
}
fclose(fp1);

return 0;
}

Bhs C Dasar - Chapter V

Array adalah kumpulan tipe data yang sejenis, kita dapat mendeklarasikan Array kedalam berbagai Dimensi

tampung[5]; // 1 Dimensi
tampung[5][5]; // 2 Dimensi
tampung[5][5][3]; // 3 Dimensi
...
.......
dan seterusnya
cara pendeklarasian :
int tampung[5];
float tampung[5];
char tampung[20];
int tampung[5][5];

angka 5 menjelaskan bawah kita mempunyai 5 data didalam variabel tampung cara pengisian langsung ;

int tampung[5] ={1,2,3,4,5};
float tampung[5] = { 1.0.2.0.3.0.4.0.5.0};
char tampung[5] = {'a','b','c','d','e'};

contoh pemakaian sebagai berikut :
#include
#include
char my_string[20] = "C hebat!";
int main()
{
int index;
printf("%s\n", my_string);
for (index = 0 ; my_string[index] ; index = index + 1)
printf("%c", my_string[index]);
printf("\n");

for(index = strlen(my_string) ; index > 0 ; index = index - 1)
printf("%c", my_string[index - 1]);
printf("\n");

return 0;
}

contoh lain :
#include
#include

int main()
{
int index;
char stuff[20], *pt;

strcpy(stuff, "This is a neat test.");
pt = stuff;
for(index = 0 ; index < 20 ; index++)
{
printf("A character is ---> %c\n", *pt);
pt++;
}

return 0;
}

#include
#include
int main()
{
int index;
char string1[6], string2[6], string3[6], all_three[18];

strcpy(string1, "one"); //mencopy string "one" kedalam varibel
string1
strcpy(string2, "two"); //idem
strcpy(string3, "three"); // idem

strcpy(all_three, string1);
strcat(all_three, " "); // mengosongkan isi variabel all_tree;

strcat(all_three, string2); // gabungkan isinya
strcat(all_three, " ");
strcat(all_three, string3);

for(index = 0 ; index < 10 ; index = index + 1)
printf("hasil stringnya ---> %s\n", all_three);
return 0;
}


#include
int main()
{
int index, array1[10], array2[10], arrays[10];

for(index = 0 ; index < 10 ; index = index + 1)
{
array1[index] = 2 + 2 * index;
array2[index] = 10 * (index + 1);
}

for(index = 0 ; index < 10 ; index = index + 1)
arrays[index] = array1[index] + array2[index];

for(index = 0 ; index < 10 ; index = index + 1)
printf("%4d %4d + %4d = %4d\n", (index + 1), array1[index],
array2[index], arrays[index]);

return 0;
}

Contoh penggunaan Array 2 Dimensi
#include
int main()
{
int i, j;
int big[8][8], large[25][12];

for (i = 0 ; i < 8 ; i++)
for (j = 0 ; j < 8 ; j++)
big[i][j] = i * j; /* perkalian tables */

for (i = 0 ; i < 25 ; i++)
for (j = 0 ; j < 12 ; j++)
large[i][j] = i + j; /* penambahan tabel*/

big[2][6] = large[24][10] * 22;
big[2][2] = 5;
big[big[2][2]][big[2][2]] = 177; /* big[5][5] = 177; */

for (i = 0 ; i < 8 ; i++)
{
for (j = 0 ; j < 8 ; j++)
printf("%5d ", big[j]);
printf("\n");
}

return 0;
}